Tuesday, April 21, 2020

Along Came a Spider

Along Came a Spider
(Alex Cross, #1)
oleh James Patterson


Maggie Rose Dune dan Michael Goldberg, murid sekolah swasta ekslusif, diculik oleh guru matematika mereka. Detektif Alex Cross yang saat itu sedang menangani pembunuhan brutal dengan dua korban kulit hitam pekerja prostitusi dan seorang anak, ditarik untuk menyelidiki kasus penculikan kedua anak sekolah itu. 

Penculiknya sudah diketahui: si guru matematika, Gary Soneji. Pertanyaannya adalah, dimana dia menyekap kedua anak itu? Kedua kasus yang ia tangani mengusik nurani Alex Cross. Anak kulit hitam yang terbunuh dengan brutal dan dua anak dari keluarga berada yang lenyap tak tentu rimbanya. Ia sendiri adalah ayah dari dua orang anak kecil. Apalagi kemudian, salah satu anak yang diculik ditemukan tewas. 

Tebusan diajukan. Gary Soneji meminta 10 juta dolar untuk pembebasan Maggie Rose dengan syarat pengantaran itu dilakukan oleh Alex Cross sendiri. Bisakah ia menyelamatkan Maggie Rose? Ternyata masih jauh dari akhir cerita.

Buku ini terbit pertama kali tahun 1993, 27 tahun yang lalu, dan kini (sudah) dianggap sebagai salah satu buku detektif klasik. Saya membacanya sekitar dua tahun kemudian dan menonton filmnya pada tahun 2002. Seandainya ada istilah "buku-yang-membuatmu-merasa-tua" saya rasa buku inilah salah satunya. 

Detektif Alex Cross dalam cerita ini, berbeda dari detektif-detektif yang pernah saya baca. Di sini deduksi ala Poirot dan Holmes tidak menjadi unsur utama. Lebih menonjolkan segi ketegangannya dan aksinya, saya kira. Sang detektif dikejar oleh waktu, ditekan dari segi politik, sekaligus sibuk menangani urusan pribadinya. Plotnya baik dengan unsur-unsur yang mengejutkan di mana-mana. 

Penokohannya cukup kuat untuk novel pertama dalam rangkaian seri yang akan terus menceritakan detektif dan musuhnya. Alex Cross digambarkan sebagai seorang detektif yang cerdas dengan gelar dokter di bidang psikologi. Ia berkulit hitam, tinggal di lingkungan hitam, dan memiliki dua orang anak kecil. Ia dan keluarganya adalah sosok ayah ideal dan dihormati di lingkungannya. Gary Soneji digambarkan  sebagai penjahat yang pandai menyamar, pintar dalam merencanakan kejahatannya, dan sakit jiwa. 

---



No comments:

Post a Comment